corat-coret

Processing Feedback

Feedback has always been a very interesting thing. Sometimes it gives you bad feelings because one and other things, but oftentimes you receive an actionable item that propels you to the next level.

In the past, It’s not rare that I feel sad and depressed when receiving feedback. Most of the time this happens because I can’t proses the feedback well. Either because it is bad feedback, or because I’m just stuck in analysis paralysis because of the inexperience.

Bad Feedback

What do I mean by bad feedback? It is the feedback that doesn’t have a concrete example, is not specific, and is not relevant.

If the feedback receiver is a software engineer, the following feedbacks are feedback that can be improved:

  • “Your code is not following the standard” is the feedback that doesn’t have a concrete example.
  • “I don’t like your attitude” is a feedback that is not specific,
  • “You are beautiful”, is a feedback that is not relevant.

The feedbacks can be improved like the following:

  • “On yesterday’s pull request, you aren’t running linter before merging to master and it has unsorted import order. It’s not up to our company’s standard style”
  • “When you are talking to me, I feel attacked because you sound condescending”.

And please, don’t do this:

You can try to improve the feedback that you received by letting the other person know that you need more information on what his feedback is about.

Analysis Paralysis

Analysis paralysis come from internal, rather than an external factor. You received decent feedback and causes a lot of things to come into your mind. “Do I always sounds condescending?”, “Did I break something?”, “Is my mistake will smudge my performance?”, “What I can do to fix this?”, “I’m so stupid I don’t realize this!”, and many other thoughts.

https://images.unsplash.com/photo-1583264277139-3d9682e44b03?ixlib=rb-1.2.1&q=85&fm=jpg&crop=entropy&cs=srgb

In the past, I’ve been very pessimist that it affects my mental health and me being suicidal. I always see the bad possibility that can happen. Add that with the analysis paralysis. When that happens, I closed my thought, and at worst, I become depressed.

I’ve been able to handle that process much better. I know what to analyze, how to take the next action, and how to ensure things don’t derail. Read 3 things that changed my life.

Writing in English

Yesterday, I was “stabbed” (what is the correct English for “tertohok”?) two times by two different people in twitter about my English. Maybe one of them not intended to do so, but still it was hurt. I realized I use English haphazardly, especially when writing. I just wrote what I think, reflexly. It worked for years, but now it looks like I am loosing my touch with so many errors come up.

So I will try to write more post in English. With that, I mean a complete English, not a mixed English, jumbled English, or half English.

Oh man, it tooks me about half an hour just to write this much. So much rechecked, and still I believe there are mistakes that I missed.

Monarki dan Demokrasi

Harusnya saat ini saya ngoding, tapi udah cape mikir. Padahal biasanya jam-jam segini masih jam-jam jenius, belum masuk ke jam bego. Tapi ya sudahlah. Sambil berusaha tidur, saya menulis saja mengenai hal yang sejak beberapa lama terpikirkan oleh saya. Perlu diperhatikan ini bukan bahasan serius dan mungkin ngasal, karena saya ga memberikan fakta ataupun bukti, jadi ya kalo ga setuju ya udah, jangan mencaci saya. Haha.

Taukan monarki ama demokrasi itu apa? Intinya sih, yang memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan itu kerajaan, atau raja, atau ratu, ya royal family lah. Sedangkan demokrasi itu kekuasaan tertingginya dipegang oleh rakyat.

Continue with reading

Kenapa Milis Harus Menjadi Media Komunikasi Utama?

Ini adalah pendapat saya mengenai isu di milis HMIF yang sempat panas. Baru pertama kali ngelihat topik dengan total 27 email. Mungkin kalau dulu itu sudah biasa. Tapi saat ini hampir tidak pernah lagi.

Kalau saya pribadi sih lebih suka dengan milis karena informasi yang disampaikan bakal lebih jelas, dan kita tahu kalau itu adalah informasi. Kalau menggunakan facebook, yang umumnya dibuka saat bersenang-senang atau melepas jenuh dari Netbeans/Notepad++/Eclipse dkk, yang diharapkan ya senang-senang. πŸ˜‰

Jadi kalau kebetulan ada informasi yang didapat pada saat tersebut tentu juga tidak bakal akan diterima lebih baik dibandingkan dengan saat membuka email yang tujuannya memang ingin mendapatkan informasi.

Mungkin ada yang lebih senang dengan cara sambil bersenang-senang, tapi ada lagi kekurangan media seperti itu. Ga bisa diarsipkan. Ibaratnya itu kaya surat howler (yang tau Harry Potter tau lah ya), habis dibaca langsung terbakar. Beda kaya surat biasa yang bisa di arsipkan.

Misalnya ada info beasiswa atau lowongan pekerjaan yang penting, tapi kita lagi sibuk, dan ingin mengeceknya di lain waktu, apakah di facebook bisa ditandai kalau itu akan dibaca lagi? Kalau email mah gampang, apalagi kalau gmail, tinggal klik aja bintangnya. Ini nih menurut saya alasan utama kenapa informasi harus lewat milis. Kalau ada yang lain ya terserah, tapi utamakan dulu milis baru yang sunahnya.

Kalau namanya anak Informatika, harusnya bisa dong memanfaatkan feature-feature teknologi yang udah ada secara optimal. FYI, dari email juga bisa untuk ngepost kegroup facebook, jadi kenapa ga buat lewat email, kirim ke milis dan group facebook. Beres kan?

Trus tambahan.. Apakah milis bahasannya harus se-strict itu? Ada ga sih media komunikasi di HMIF yang sifatnya senang-senang? Atau istilahnya untuk nge-junk? Serius-serius amat sih. Haha.

Pilkada Pekanbaru

Buat yang ga tau, Pekanbaru itu nama kota, ibukota Provinsi Riau. Riau itu ada di Pulau Sumatra, selatannya Singapura. Kalau kota, pemimpinnya disebut walikota. Pilkada itu, pemilihan kepala daerah. Nah baru-baru ini lagi di Pekanbaru lagi ramai dibicarakan tentang masalah ini.

Kenapa jadi masalah yang ramai dibicarakan? Habisnya pemilunya udah dilaksanakan 2 kali, tapi masih gak beres-beres. Pilkada yang pertama saya lupa kapan diadakannya, tapi pilkada yang kedua baru diadakan bulan Desember yang lalu. Calon di kedua pilkada ini sama, yang satu cowo, yang satu cewe.

Pilkada pertama yang dimenangkan oleh calon yang cowo dibatalkan karena dikatakan kalau ada terdapat kecurangan di suara yang diberikan pada salah satu calon. Oleh karena itu diadakanlah pilkada yang kedua. Setelah pemilu yang kedua ini terlaksana, calon yang cowo malah ingin digugurkan. Katanya administrasinya tidak benar, beristri dua tapi pada saat pendaftaran hanya punya istri satu. Haduh-haduh banyak alasan. Kalau salah administrasi, seharusnya dari awal sudah digugurkan, kenapa malah ditengah-tengah baru diungkit kembali. Kelihatan dibuat-buat.

Masalah ini membuat masalah yang lain. Beberapa masyarakat Pekanbaru yang mengatasnamakan warga Pekanbaru melakukan demo. Kalau demo berorasi menyampaikan pendapat saja sih masih okelah ya, tapi malah sampai melakukan vandalisme (perusakan barang umum) ke 2 tugu yang kebetulan berada dekat dengan lokasi demo yang dilakukan sambil membakar ban.

Tugu PON
*sumber: www.zamrudtv.com*

Tugu Zapin
Tugu yang sudah jelek semakin dijelekkan *sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com*

Ban yang dibakar di jalan pusat kota dan mengganggu lalu lintas *sumber:http://pekanbaru.tribunnews.com*

Kalau menurut saya hal ini sangat tidak Melayu, sudahkah hilang Melayu di bumi? Orang Melayu itu ya, lemah-lembut dan santun, jarang yang mengeraskan suaranya. Selain itu juga sifat buruknya, “tak adee”, apapun pertanyaannya, jawabnya, “tak ade”. Pokoknya gak pernah selama 20 tahun saya hidup terjadi sebelumnya. Gimana ya rasanya. Sedih, kesal.

*I don’t wanna live in this planet anymore*